Dalam boyongan itu, Syahri Mulyo mengajak seluruh keluarganya yakni istri, Wiwik Wijayanti dan empat anaknya ke pendopo. Mereka membawa tikar, gula kopi, lampu teplok dan sapu lidi.
Sambil membawa perlengkapan rumah tangga tersebut, mereka berjalan dari pintu gerbang pendapa menuju pendapa. Sebelum masuk di pendapa, mereka disuguhi tarian keselamatan. Tarian tersebut berlangsung sekitar 10 menit.
Setelah itu, keluarga Syahri Mulyo menuju ke dalam ruangan pendapa. Di ruang tersebut, mereka meletakkan peralatan rumah tangga. Kemudian, mereka sujud.
Menurut Sri Wahyuni pemandu upacara, lampu teplok dan sapu lidi yang dibawa Syahri Mulyo ini mempunyai arti. Lampu teplok sebagai symbol menerangi perjalanan Syahri sebagai bupati lima tahun ke depan, sedangkan sapu lidi menunjukkan Syahri menginginkan yang bersih . “Sebenarnya semua yang dibawa mengandung makna,”ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Tulungagung Syahri Mulyo mengaku lega atas prosesi boyongan ke pendapa. Dia mengatakan, prosesi boyongan ini dijadikan awal perjuanganya mensejahterakan masyarakat Tulungagung.
Dia berharap setelah mengikuti prosesi boyongan tersebut, apa yang dicita-citakan untuk kemakmuran warga Tulungagung bisa cepat terlaksana. “Mudah-mudahan rencana jangka pendek dan jangka panjang untuk menujudkan visi – misi bisa segera terlaksana,”pintanya
Kami masyarakat Tulungagung ikut berdo'a dan berusaha semampu kami untuk ikut serta mendukung visi dan misi Bapak Bupati baru... mudah2an Tulungagung benar-benar bisa menjadi Tetulung yang agung bagi masyarakat tulungagung khususnya dan bisa menyebar ke seluruh indonesia tanah air tercinta.....
BalasHapus